BERDZIKIR KEPADA ALLAH DI SETIAP HELAAN NAFAS



BERDZIKIR KEPADA ALLAH DI SETIAP HELAAN NAFAS

Oleh : Agus Mustofa (Penulis Buku Serial Tasawuf Modern)

ZIKRULLAH alias mengingat Allah adalah pelajaran puncak dalam spiritualitas Islam. Karena itu, didalam Al-Qur’an bertaburan pelajran tentang dzikir. Berdzikir tidak hanya bermakna mengucapkan kalimat dzikir, melainkan menghadirkan Alla dalam seluruh kesadaran kita. Apapun yang sedang kita lakukan tak lepas dari interaksi dengan-Nya.

Karena itu selain memerintah untuk melakukan dzikir sebanyak – banyaknya, dalam QS 33: 41, Allah mengajarkan untuk berdzikir dalam kondisi apapun. Istilah Al-Qur’an adalah mengingat Allah dalam segala keadaan: berdiri, duduk, maupun berbaring.
(Yaitu) orang-orang yang berdzikir mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka peeliharalah kami dari siksa neraka (QS Ali Imran: 191).”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir merupakan inti semua ibadah. Sholat mesti mengingat Allah, berpuasa mesti mengingat Allah, demikian pula zakat, haji, dan apapun bentuk ibadah yang kita lakukan. Bahkan bukan hanya ibadah – ibadah khusus seperti itu, melainkan juga dalam segala kondisi: makan, minum, mandi, berkendara, menuntut ilmu, berdarma wisata, dan segala macam kegiatan sehari – hari, termasuk saat beristirahat maupun tidur semua tak pernah lepas dari zikrullah, menyambungkan hati kepada Allah.

Karena itu kita menjadi paham ketika Allah menyebut zikrullah sebagai amal yang paling besar disbanding segala ibadah “…Dan sesungguhnya berzikir kepada Allah (zikrullah) itu lebih besar (keutamaannya disbanding ibadah apapun yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Ankabut: 45).”

Saya lantas ingat bagaimana ayah saya – yang juga guru tasawuf saya sendiri – mengajari pentingnya zikir itu. Beliau menggambarkan begini: kalau kita ingin selalu berinteraksi dengan Allah, yang harus dilakukan adalah sering – sering membaca Al – Qur’an. Sebab, kitab suci itu berisi ucapan alias firman – firman Allah. Membaca Al – Qur’an dengan khusuk sama dengan berdialog dengan Allah.

Tetapi, karena tidak mungkin khatam Al-Qur’an setiap hari, kita bisa membaca kandungan Al-Qur’an itu dalam “ringkasanny kitab sucia”, yaitu surat Al Fatihah. Karena itulah, surat pembuka kitab suci tersebut disebut ummul kitab – induk Al Kitab. Isinya mewakili kandungan Al-Qur’an secara global. Membaca Al Fatihah bisa kita lakukan jauh lebih banyak disbanding mengkhatamkan Al-Qur’an. Minimal tujuh belas kali sehari semalam kita melakukannya saat Sholat.

Menurut ayah saya, meski surat Al Fatihah tersebut sudah merupakan ringkasan Al-Qur’an, sebenarnya ia masih bisa diringkas lagi, yakni menjadi kalimat bismillahirrahmanirrahim yang ditempatkan pada awal surat itu. Artinya, kita diajari untuk melafalkan kalimat basmallah lebih banyak disbanding membaca Al Fatihah. Tidak hanya setiap Sholat, melainkan setiap hendak berbuat apa saja kita perlu membaca basmallah. Mau makan baca bismillah, mau minum baca bismillah, mau bekerja, mau bepergian, mau belajar, mau tidur, dan mau apa saja aktivitas sehari – hari yang akan kita lakukan, kita mesti membaca basmallah.

Namun, kalimat bismillahirrahmanirrahim itupun sebenarnya mamiliki inti kandungan makna, yang terdapat pada kata “Allah”. Karena itu, teringat betul bagaimana bapak saya mengajari anak – anaknya agar melafalkan kata “Allah” lebih banyak lagi. Yaitu, seiring dengan helaan nafas: Allahu….Karena itu, melafalkan kata “Allah” itu sama dengan membaca intisari seluruh firman-Nya yang berjumlah 6.236 ayat. Itulah zikir paling intensif yang bisa dilakukan seorang hamba terhadap Tuhannya. Ada juga yang masih meringkas kalimat”Allahu” itu menjadi: “Hu…Hu…” yang bermakna “DIA” (Allah), seiring dengan tarikan dan keluarnya nafas.

Begitulah para pelaku zikir berinteraksi dengan Allah. Mereka ingin menyambut ajakan Allah agar setiap saat mengisi kesadarannya dengan mengingat Allah. Dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, sebagaimana diajarkan dalam firman-firman-Nya. Tidak harus diucapkan dengan lisan karena zikir bisa dilafalkan didalam jiwa dan kesadarannya.

Ibarat pelajaran membaca anak SD dan mahasiswa. Seorang anak SD membaca buku – buku pelajaran dengan cara mengeraskan suara, tetapi mahasiswa membacanya dalam hati dengan penghayatan yang jauh lebih tinggi. Semua itu hanya soal kebiasaan dan kita semua biasa melakukannya kalau mau.

Orang-orang yang sudah mencapai tataran ini diibaratkan Allah sebagai orang yang selalu berhadapan dengan Allah dimanapun dia berada. Menghadap kebarat bertemu Allah, menghadap ketimur juga bertemu Allah. Sebab, barat dan timur itu memang milik Allah dan seluruh yang ada diantaranya sudah diliputi-Nya, tanpa ada jarak yang memisahkan.

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitu wajah Allah. Sesunguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (QS Al Baqarah: 115).”

Dan sesungguhnya Kamilah yang telah menciptakan manusia, dan kami menghetahui segala yang dibisikkan oleh jiwanya. Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (sendiri) (QS Qaaf: 16).”
Wallahu a’lam bishshawab.

Postingan Populer