RAMADHAN ZAMAN KOMEDI


Oleh : Bandung Mawardi (Pengelola Jagat Abjad Solo)
Ramadhan di Indonesia menjelma menjadi "Bulan Tertawa". serbuan acara - acara komedi di televisi telah mendefinisikan Ramadhan. Suguhan komedi menjelang sahur dan berbuka menjelaskan ritus tertawa memberikan hiburan dan kealpaan. Refleksivitas atas peristiwa sahur dan berbuka memudah oleh ibadah menonton televisi: TERTAWA !.

Pengondisian tersebut mirip pusaran ilusif. Penonton menaruh diri sebagai "Umat Komedi". Mereka dialpakan atau mengalpakan diri dari permenungan Ramadhan. Lapar dan haus justru ditebus melalui tertawa sepanjang hari. Ekstase Komedi. Tragis !

Rezim komedi di Bulan Ramadhan telah berlangsung sekitar enam tahun. pemilik dan pembuat program komedi belum jenuh. Publikpun masih "mengimani" acara komedi. Kita mencatat puluhan acara komedi "mengambil alih" waktu-waktu reflektif selama umat menjalankan ibadah Ramadhan.

Pilihan waktu dan jenis garapan komedi kentara menjelaskan "kudeta makna" atas pengalaman batiniah dan waktu sakral dalam rujukan iman. Orang berpuasa seolah memerlukan "Obat mujarab" demi melupakan atau menghapuskan lapar. "obat mujarab" itu adalah acara komedi dengan cerita murahan dan pendangkalan nalat imajinasi oleh para komedian.

Televisi adalah pusat peribadatan komedi. umat nenempatkan diri secara masal di pelbagai ruang demi menonton televisi. adegan-adegan ganjil itu telah menjelma menjadi kelaziman selama Ramadhan. Penonton mungkin melampiaskan hasrat-hasrat picisan dengan mengkonsumsi suguhan komedi. Puasa memang ibadah, tapi menonton acara komedi pun "hampir" ibadah harian. Indonesia memang negeri Komedi. Ramadhan memang menjadi "Bulan Komedi". Kita hidup di Rezim Komedi !

Veven Sp. Wardhana (2009) mengingatkan, endemi komedi di Indonesia justru menebar manupilasi realitas dan refleksi sosial. Publik terlanjur mencandui komedi. penggarap acara komedi lekas mengolah siasat murahan. acara-acara komedi picisan disuguhkan tanpa memikirkan bobot atau misi adab. ukuran terpenting adalah jumlah penonton dan pendapatan. Veven Sp. Wardhana berseru bahwa komedi dan tertawa mengalami reduksi makna disuguhan acara-acara televisi. Acara komedi sengaja mempermainkan logika dan menjatuhkan refleksi di titik nadir. Kita diajari untuk "taat" dan tertawa oleh "ketololan".

Kita semakin bergerak ke zaman tanpa adab. komedi sebagai mekanisme nalar-imajinasi dalam kesejarahan adab Yunani telah dijungkir balikkan. Komedi adalah representasi refleksi manusia atas realitas. Pertautan bentuk ungkapan komedi mencipta gairah pemaknaan. refleksipun mengajak orang mengolah makna dengan rujukan agama, sastra, filsafat, sains, politik.

Komedi uang semula bergerak dari jagat Teater telah menderas ke televisi sebagai garapan picisan. komedi dicerabut dari akar historis. Garapan acara komedi malah sengaja dimaksudkan untuk membodohi demi kapital dan popularitas. MIlan Kundera memang pernah memberikan konklusi: Abad XX adalah abad humor. pengertian itu perlahan dijatuhkan ke selebrasi murahan dan pendangkalan ekspresi peradaban.

Gejala paling apes adalah agenda suguhan komedi di televisi mencipta komedian tanpa kompetensi. kaum selebritas masuk terlibat di acara komedi tanpa modal. mereka seolah melupakan misi komedi. Kita mahfum bahwa penggampangan di acara komedi tak memerlukan "pengetahuan" dan "pembelajaran".

Komedi adalah urusan TERTAWA. pemaknaan itu menghinakan. Komedi sengaja dijatuhkan ke pengertian paling rendah: "Tertawa". Mereka mungkin ingin mengajak penonton mengalpakan selebrasi komedi ala para komedian masa lalu. Dominasi komedi di televisi telah menepikan ingatan atas selebrasi "kemajemukan ekspresi" dan ketokohan.

Rezim komedi selama Ramadhan memberikan godaan picisan, tapi publik penonton turut melangengkan. Kita mungkin getir meski sulit memberikan ralat. Kita terus mendapati penambahan jumlah para komedian dari kalangan selebritas. kita terus mendengar dan melihat ketaatan penonton didepan televisi. mereka tertawa dan mengibur diri sepanjang hari.

Kuasa televisi dan dominasi selama Ramadhan menjelaskan bahwa publik "memerluka" hiburan disaat menjalankan ibadah puasa. pendefinisian ibawah bercampur dengan agenda agenda hiburan tanpa melibatkan rujukan-rujukan religius.

Ramadhan sebagai momentum reflektif berganti dengan ritus menonton televisi sepanjang hari. pemaknaan lapar dan tubuh-religius diintervensi oleh hasrat tertawa. Ramadhan memang mengajarkan lapar, tapi pu blik penonton justru mengantarkan diri ke pusaran ilusif: komedi.

Ramadhan sebagai "bulan komedi" membuat KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan MUI (Majlis Ulama Indonesia) sibuk melakukan penilaian atas suguhan acara komedi dipelbagai stasiun televisi. mereka mesti telaten mengurusi acara komedi televisi berpamrih etis, hukum, bisnis, agama.

Acara-acara komedi telah menjelma tanda seru atas kondisi pertelevisian dan realitas indonesia. kegandrungan atas acara-acara komedi ditelevisi mengartikan publik berada di kegamangan iman dan identitas. mereka kehilangan rujukan dari jagat politik, pendidikan, ekonomi, sosial, kultural. Televisi menjadi sandaran atas kegagalan dan kerapuhan untuk identitas diri. Agenda menghibur diri dengan mengkonsumsi acara komedi di televisi mungkin menjadi obat mujarab ketimbang merana.

Kita hidup bersama para pecandu komedi. Selebrasi Ramadhan sebagai kelimpahan komedi mencipta "kegersangan" makna. Agenda mengonsumsi acara komedi "menepikan" undangan-undangan refleksi atas iman, identitas, kemanusiaan, peradaban.
Ritus tertawa justru mengubah Ramadhan sebagai bulan popularitas dan uang bagi para selebritas. acara-acara komedi di televisipun menjelma menjadi "ibadah masal" demi pamrih-pamrih pragmatis.

Seakan lupa peringatan Kanjeng Rosul "Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena banyak tawa mematikan hati" (Riwayat Ibnu Majah).

Postingan Populer