KARENA KU INGIN INI MENJADI CINTA TERAKHIRKU


Sebuah pepatah bijak mengatakan "Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam setiap pertandingan  gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya". Ketika disalahkan, ketika diremehkan, ketika segala jasa terlupakan, ketika segenap pengabdian terabaikan, KEMARAHAN akan tersulut bergolak membakar hati bagai menghanguskan setangkup ilalang kala kemarau. Begitu cepat menghanguskan kesadaran dalam sekelebat.

Seketika teringat pula sebuah pitutur luhur nenek moyang "Ojo mung rumongso iso, ning isoo rumongso....isoo rumongso......isoo rumongso". petuah itu terus berngiang di benakku bagaikan gema tak terhenti bergaung di setuap relung jiwa. perlahan kutarik nafas dalam - dalam dan kuhembuskan pelan pelan. menata hati mengendalikan segala gejolak emosi. seorang pengendali terbaik bukanlah berasal dari Suku air, bukan dari negara api, negara bumi atau kuil udara. Pengendali terbaik adalah dari Negeri Avatar yang menguasai pengendalian semua elemen sekaligus pengendalian inti. Kayak di the legend of Aang aja hahahahahaha....

Ketika aku dituntut memaparkan segala yang dikerjakan, sungguh aku tak mampu menjabarkannya bahkan aku tak bisa mengingatnya karena segala yang telah ku selesaikan dengan sungguh - sungguh akan ku bungkus dengan senyuman tuk kemudian ku hanyutkan bersama aliran kerelaan. maka dari itu Maaf bila ku tak bisa memaparkan Hal berguna apa yang telah ku kerjakan selama ini.

Ketika Sebuah Vonis Lambat dijatuhkan dan meminta sebuah alasan untuk membatalkannya, Maaf aku tak bisa menemukan alasan untuk itu, karena memang hanya aku yang mengerti dan memahami kekuatan sekaligus kemampuanku berlari. Aku bukan seperti mobil mewah dengan Speed Tinggi yang mampu melaju dengan kecepatan tinggi ketika jalanan dalam keadaan kosong. namun silahkan dipacu Full Speed ketika jalanan sedang ramai bila memang mampu. Bibirku memilih diam menahan segala derai ucapan karena ku sadar segala alasan kan jadi hambar menguap bagai embun pagi bersama asap rokok dan uap secangkir kopi. Percuma.....karena bila hanya melihat spesifikasi Top Speed yang luar biasa tanpa menilai arus keramaian jalan, hanya melihat dari balik kacamata keakuan bukan kacamata kekitaan dan kesatuan.

Ketika segala Jasa, segala pengabdian terlupakan dan terabaikan seperti pepatah "Susu sebelanga rusak oleh setetes tinta" tersenyumlah......tariklah nafas dalam - dalam. dan sekali lagi maaf ku tak mampu menyuguhkan rantaian pembelaan bagai seorang Pengacara Handal. Ku hanya mampu membela dengan sebuah senyuman dengan tatapan mata yang dalam. Apakah aku telah berjasa....TIDAK karena telah kuhanyutkan dengan penuh senyum dalam deras arus kerelaan. 

Aku adalah sebagaimana prasangkamu kepadaku, aku tak mampu menyampaikan alasan, aku tak bisa memberikan pembelaan atas segala penilaian, aku hanya menjalani tugasku dengan segala kecintaan dan kesungguhan tanpa berharap adanya nilai. maka dari itu wajar dan benar bila menganggapku TAK BERNILAI.
Aku berusaha mengikis harga diri sedikit demi sedikit tuk digantikan dengan senyum sesama jadi wajar dan benar bila menganggapku TAK BERHARGA, karena memang aku tak menjual diriku untuk dihargai.

Aku bertahan bukan karena aku tak punya kemampuan, aku bertahan bukan karena ketakutan tapi aku bertahan karena aku berharap Semua ini akam menjadi Cinta Terakhirku.

Postingan Populer